11 Nov 2018

Cara Baru Mengajarkan Aksara Jawa

BUKAN HANACARAKA

Jika selama ini Anda mengajarkan Aksara Jawa dengan mengenalkan HANACARAKA, Kini saatnya mencoba METODE AMBAR ( Aksara Jawa Kembar ).


MENGAPA?

Karena saya telah membuktikan keampuhan Metode AMBAR di kelas saya.
Metode AMBAR ini juga masuk 10 besar Lomba Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional Tahun 2017

BAGAIMANA CARANYA?
Metode ini saya tulis di buku "Mengenal Aksara Jawa dengan metode AMBAR". Semua RAHASIA metode itu saya buka habis-habisan.


BONUS
Guna mengoptimalkan pembelajaran Aksara Jawa dengan metode AMBAR, Saya sertakan pula tool yang dapat diunduh:

1. Media Pembelajaran AMBAR
2. LKS BIMA JAWA untuk berlatih menulis Aksara Jawa
3. Konsultasi GRATIS secara online tentang cara menggunakannya.
( Bisa pula dalam bentuk CD Interaktif sesuai permintaan karena setiap LAPTOP berbeda, bukan?)


Selama masa Pre-order yaitu tanggal 11-25 November 2018 dengan harga Rp 30.000 (belum ongkir) karena setelah masa Pre-order ini usai saya akan menaikkan harganya.

WA 087731449424
Penasaran dengan metodenya?
Bagi Anda yang ingin mencoba metode ini, Saya sediakan kelas khusus untuk mengintip metode ini.


Semoga bermanfaat bagi kemajuan pendidikan Indonesia khususnya pelestarian budaya Jawa dengan Aksara Jawa.
Catatan:
Buku akan dikirim setelah masa Pre-order.

20 Okt 2018

Happy Ending Teacher

estupitarto.com - Apakah usia Anda sudah uzur dan mendekati masa pensiun? Jika jawaban Anda, ya, maka saya sarankan Anda wajib membaca tulisan ini! Mengapa? Jadi begini ceritanya.
Selama lima hari yang lalu sejak tulisan ini diturunkan, saya bersama dengan beberapa guru lain mengikuti kegiatan penyegaran instruktur nasional di PPPPTK Matematika, Sleman-Yogyakarta.

Seperti biasa, seusai kegiatan kami beristirahat di asrama sedari membincangkan segala sesuatu terkait dengan pengalaman yang dialami. Seorang kawan, Pak Nugraha bercerita bahwa betapa susahnya guru-guru untuk berubah terutama bagi mereka yang telah mendekati masa pensiun, entah 1 tahun lagi, 6 bulan bahkan 40 hari. Pada akhirnya ia bercerita bahwa tidak semuanya demikian, ada satu kisah yang patut menjadi teladan bagi kita semua terutama Anda yang saat ini mendekati masa pensiun.

Sebut saja namanya Ibu Siti. Ibu Siti ini termasuk guru senior ( sebutan untuk guru yang memiliki masa kerja lama ). 40 hari lagi Ibu Siti pensiun, pada saat itu sekolah tempat ia bekerja akan dinilai oleh tim asessor dalam rangka akreditasi sekolah. Manakala guru lainnya bekerja keras untuk mempersiapkan hari H tersebut, demikian pula dengan ibu Siti. Ia berusaha untuk mengumpulkan semua kelengkapan administrasi pengajaran yang dimiliki guna keperluan akreditasi. Pak Nugraha merasa takjub melihat hal tersebut. Ia pun tak dapat menahan rasa penasarannya dan bertanya kepada ibu Siti, "Mengapa ibu melakukan hal ini padahal 40 hari lagi ibu akan pensiun? Sedangkan banyak kawan lain merasa ogah-ogahan ketika mendekati masa pensiun".Ibu Siti pun menjawab bahwa semua ini ia lakukan untuk mengakhiri masa bhaktinya dengan kenangan dan kesan indah. Ia tak mau jika pada hari H nanti, ia akan mendapat teguran dari tim asessor karena kurang atau tidak memiliki perangkat administrasi yang dibutuhkan. Ibu Siti tidak mau sekian lama ia mengabdi akan tercoreng gegara tidak maksimal dalam berkarya. Ibarat kata, nila setitik rusak susu sebelanga.

Kisah Ibu Siti ini sangat menginapirasi saya. Betapapun keadaan kita, jiwa mendidik sebagai guru profesional setidaknya tidak akan pernah luntur dilekang oleh usia. Kenyamanan naik sebuah pesawat terbang akan terasa sempurna manakala dapat mengudara mulus, melayang tenang dan mendarat dengan halus. Marilah kita jadikan masa akhir kita menjadi sebuah happy ending, akhir yang bahagia dan membahagiakan.

17 Okt 2018

Pantang Berpangku Tangan, Ini yang Dilakukan Pencari Nafkah

estupitarto.com- Mencari nafkah adalah tugas seorang Ayah, meskipun saat ini para istri juga ikut membantu. Bagi seorang ayah, tanggungjawab ini merupakan salah satu tolok ukur martabatnya sebagai seorang ayah dan suami. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencari nafkah. Beberapa hal berikut ini yang menjadi catatan saya hari ini tentang mencari nafkah.

1. Niat
Mencari nafkah bagi seorang Ayah adalah jihad fi sabilillah. Oleh karena itu luruskan niat bahwa kita bekerja semata-mata karena Allah untuk menunaikan amanah-Nya. Gugur saat menjalankan tugas saat mencari nafkah bernilai syahid. Insya Allah.

2. Kesungguhan Hati
Kesungguhan hati tercermin dari cara ia mencari nafkah. Pantang bermalas-malasan dan selalu semangat dilandasi oleh motivasi dan niat bahwa ia memiliki sebuah tanggungjawab.

3. Kuat
Pada saat bekerja, halangan dan rintangan pasti akan didapatkan. Kuat, kunci menghadapi itu semua. Kuat secara fisik dan mental. Kekuatan fisik tentu dapat kita kelola dengan menciptakan keseimbangan antara waktu ia bekerja dengan beristirahat. Terlalu banyak waktu digunakan untuk bekerja atau bahkan terlalu lama beristirahat bukanlah hal yang baik. Kata Bang Rhoma,"T E R L A L U ". Banyak kita lihat seseorang bekerja dengan memperlakukan malam buat siang dan siang tetaplah siang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih. Pada akhirnya ketika raga jatuh sakit, semua uang yang dikumpulkannya bisa jadi ludes habis untuk pengobatan.

Mental pun harus kuat, manakala terjadi benturan dengan rekan kerja, pelanggan atau pun dengan atasan. Satu hal yang perlu disadari bahwa benturan itu terjadi karena tidak ada kesamaan antara harapan orang lain dengan apa yang kita lakukan. Maka, selalu intropeksi diri, memohon maaf jika melaukan kesalahan dan baik menyampaikan jika kita berada pada posisi yang benar.

4. Sadar
Sadarilah bahwa Allah telah memberikan dan membagi rezeki bagi tiap makhluk-Nya. Tidak ada rezeki yang tertukar sebab semua telah digariskan. Tugas kita hanyalah menjemput rezki yang digantungkan. Dengan demikian kita akan senantiasa berusaha dan berihtiar guna mencapainya.

5. Syukuri
Syukuri rezeki hari ini. Banyak atau sedikit rezeki yang kita terima harus disyukuri. Yakinlah bahwa syukur akan mendekatkan diri pada tambahan rezeki yang akan datang. Guru saya mengatakan bahwa rezeki hari ini pada dasarnya ada dua yakni, apa yang kita makan, apa yang kita kenakan saat ini.

Semoga bermanfaat dan selalu menjadi pengingat bagi kita semua.

24 Mei 2018

3 Alasan Shaf Berkurang Pada Sepertiga Terakhir, No 3 Bikin Ngelus Dada

estupitarto.com- Masyarakat pada umumnya membagi tiga keutamaan di bulan Ramadhan. Awalnya terdapat rahmat, tengahnya ampunan dan sepertiga terakhir terbebas dari siksa api neraka. Dilansir dari muslim.co.id, persepsi ini diambilkan dari hadits yang dhaif sehingga perlu diluruskan berdasarkan hadits lain yang shahih. Pada tulisan kali ini saya tidak akan mengulas secara detil mengenai hal tersebut sebab kefakiran ilmu yang saya miliki. Saya hanya akan menceritakan perbincangan di suatu warkop bersama teman-teman ojek online.

Saat itu teman saya mengeluhkan orderan sepi pada awal ramadhan ini. Selanjutnya ia yakin bahwa pada sepertiga Ramadhan terakhir akan banyak orderan yang masuk. Lalu apa hubungannya dengan shaf berkurang dalam judul di atas?

Kita semua tahu bahwa pada awal Ramadhan ini, masjid maupun mushola banyak jamaah yang hadir dalam melaksanakan shalat Tarawih. Bahkan barisan shalat dapat memenuhi hingga teras masjid. Semua semangat menyambut datangnya bulan yang penuh berkah dan ampunan ini. Fenomena selanjutnya yang biasa terjadi di beberapa tempat, jumlah tersebut semakin ke depan. Inilah tiga alasan berkurangnya shaf versi perbincangan kami di warung kopi.

1. Hujan

Hujan pada bulan Ramadhan sungguh merupakan berkah tersendiri. Udara yang sejuk akan mengurangi rasa dahaga saat menjalankannya. Hujan yang turun tak hanya terjadi pada siang hari melainkan bisa juga pada saat malam hari. Tak jarang pada saat hendak berangkat Tarawih berjamaah di masjid atau mushola, hujan turun. Ada yang tetap semangat berangkat namun ada pula yang enggan menuju ke tempat ibadah ini. Bisa jadi bukan karena enggan ya guys melainkan tidak ada payung atau jas hujan yang dapat digunakan untuk melindungi dari air hujan ketika hendak berangkat ke masjid atau mushola.

2. THR Sudah Cair

Persamaan antara hujan dengan THR adalah sama-sama bahagia bila cair. THR biasanya diturunkan pada masa akhir Ramadhan atau sepertiga waktu terakhir. Pada masa itu, beberapa instansi mulai meliburkan karyawannya. Kesempatan itu digunakan oleh keluarga untuk pergi keluar untuk mencari pakaian baru atau hidangan yang akan disuguhkan pada saat lebaran nanti.

Mengenai hal ini, tidak semua keluarga pergi pada saat malam hari. Mereka yang mengetahui manfaat dan pahala yang besar dalam menjalankan ibadah di bulan suci ini lebih memilih waktu siang hari untuk berbelanja, tokh ia sudah libur bukan? Ada pula yang memilih berbelanja di waktu malam hari setelah Tarawih. Tentu saja mereka yang memilih waktu ini telah memperhitungkan waktu dengan tepat sehingga waktu berbelanja dapat terpenuhi. Ada pula yang memilih melewatkan waktu Tarawih untuk pergi berbelanja. Alasannya agar mereka memiliki waktu yang cukup untuk berbelanja sekaligus jalan-jalan. Nah, pada bagian THR cair inilah yang membuat bahagia teman saya sebab dipastikan akan banyak order mengantarkan orang-orang berbelanja.

Akibat aktifitas berbelanja di malam hari tersebut, maka bisa dipastikan jamaah masjid menjadi berkurang barisannya.

3. Malas dan Capek

Perjuangan seseorang dinilai dari semangat istiqomahnya. Mereka yang mampu bertahan dalam keistiqomahan beribadah akan menuai hasil yang maksimal dibandingkan dengan menyerah di tengah jalan. Rasa manusiawi terhadap fisik menjadi alasan bagi mereka yang enggan lagi pergi ke masjid berjamaah. Ya, malas dan capek, tentu saja alasan ini bikin kita ngelus dada dan beristighfar ya guys.

Sebelum saya akhiri, ada sebuah kisah perbincangan Tasban dan Koncer yang menarik.

Kala itu Tasban bertanya kepada Koncer. 

"Mengapa kamu tidak shalat Tarawih berjamaah di masjid, Kon?" 
"Tidak, Tas.Masjidnya sudah banyak yang berjamaah" Jawab Tasban
"Berarti kamu tidak akan pernah shalat Tarawih berjamaah, nih?" Tanya Tasban selanjutnya.
"Aku tetap akan shalat berjamaah di masjid, Tas. Menunggu nanti pada sepertiga terakhir Ramadhan. Ketika orang-orang sudah tidak mau meramaikan masjid lagi, giliran aku yang akan meramaikannya. Dengan begitu masjid akan senantiasa ramai baik pada awal hingga akhir Ramadhan dan seterusnya" Jawab Koncer.

Semoga Ramadhan kita memperoleh keberkahan pada setiap aktifitas yang kita lakukan.

Sumber gambar dari NU Online

23 Mei 2018

Berkarir Di Jalan Allah

estupitarto.com-Karir bagi seseorang terasa amat penting. Setiap individu akan berlomba meniti jalan karir hidupnya sesuai dengan jalan yang mereka pilih. Seorang guru meniti karir berawal dari mengikuti tes pegawai negeri atau institusi swasta. Seorang calon karyawan memulai karirnya saat ia memasukan lamarannya di sebuah perusahaan hingga resmi dinyatakan sebagai karyawan pada perusahaan tersebut. Seorang pengusaha merintis karirnya dari modal awal hingga berjibaku dengan waktu. Jenjang karir seseorang pun tergantung dari kemampuan institusi tempatnya bekerja dalam menghargai sebuah prestasi, maka beruntunglah bagi mereka yang berada di tempat yang tepat untuk mengembangkan karirnya.

Semua karir yang tersebut di atas hanyalah bersifat sementara. Meniti karir di dunia tidak akan pernah sebanding dengan meniti karir di jalan Allah. Ibarat menanam rumput padi tak akan tumbuh dan menanam padi niscaya rumput pun ikut jua. Kesadaran individu bahwa ada sebuah karir yang patut diperjuangkan dengan segala kemampuannya tidak akan membuat kesedihan baginya bilamana teman atau saudara tampak berjaya dengan karir yang mereka dapatkan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita sukses meniti karir di jalan Allah.

Niat
Tumbuhkan kesadaran bahwa apapun yang kita lakukan di dunia ini berangkat dari niat suci atas nama Allah, "Bismillah". Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bahwa amal seseorang tergantung pada niatnya. Apa yang akan ia dapatkan sesuai dengan niat awalnya pula. Seseorang berniat ikut lomba agar ia mendapatkan pujian manakala memenangkannya maka pujian itulah yang akan ia dapatkan. Niat karena Allah, maka pada hakikatnya ia telah melakukan jual beli dengan Tuhannya.

Ikhtiar
Istiqomah dalam berusaha akan berbuah indah pada akhirnya. Berusaha sesuai dengan tugas dan kewajiban yang harus kita lakukan. Tengoklah, seorang guru setiap hari ia mengajar untuk mendidik murid-muridnya itulah ikhtiar. Seorang satpam berjaga di posnya untuk memastikan keadaan aman pada lingkungan tangungjawabnya itu juga ikhtiar. Maka ikhtiar apakah yang sudah kita lakukan untuk memberikan persembahan kepada Tuhan kita? Tak lain adalah dengan betaqwa kepada-Nya.

Belajar
Berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin adalah salah satu indikator orang yang bakal memperoleh keberuntungan. Upaya agar diri lebih baik tak lain dengan belajar. Belajar dari kesalahan masa lalu, belajar dari pengalaman hidup orang lain, belajar dari para guru yang mengajarkan nilai-nilai kebajikan. Belajarlah dari orang-orang yang diberikan petunjuk agar kita memperoleh jalan yang benar. Track yang tepat untuk mencapai tujuan dalam meniti karir kita di jalan Allah. Jihad Fii Sabilillah dengan peran yang kita jalani di dunia ini.

Ketiga hal tersebut jika mampu kita jalani maka pasti akan menuai hasil indah pada akhirnya. Karir di jalan Allah, jelas arah dan tujuannya, pasti penghargaan yang akan didapatkannya. Masih mau meniti karir di jalan selain Allah?