20 Okt 2018

Happy Ending Teacher

estupitarto.com - Apakah usia Anda sudah uzur dan mendekati masa pensiun? Jika jawaban Anda, ya, maka saya sarankan Anda wajib membaca tulisan ini! Mengapa? Jadi begini ceritanya.
Selama lima hari yang lalu sejak tulisan ini diturunkan, saya bersama dengan beberapa guru lain mengikuti kegiatan penyegaran instruktur nasional di PPPPTK Matematika, Sleman-Yogyakarta.

Seperti biasa, seusai kegiatan kami beristirahat di asrama sedari membincangkan segala sesuatu terkait dengan pengalaman yang dialami. Seorang kawan, Pak Nugraha bercerita bahwa betapa susahnya guru-guru untuk berubah terutama bagi mereka yang telah mendekati masa pensiun, entah 1 tahun lagi, 6 bulan bahkan 40 hari. Pada akhirnya ia bercerita bahwa tidak semuanya demikian, ada satu kisah yang patut menjadi teladan bagi kita semua terutama Anda yang saat ini mendekati masa pensiun.

Sebut saja namanya Ibu Siti. Ibu Siti ini termasuk guru senior ( sebutan untuk guru yang memiliki masa kerja lama ). 40 hari lagi Ibu Siti pensiun, pada saat itu sekolah tempat ia bekerja akan dinilai oleh tim asessor dalam rangka akreditasi sekolah. Manakala guru lainnya bekerja keras untuk mempersiapkan hari H tersebut, demikian pula dengan ibu Siti. Ia berusaha untuk mengumpulkan semua kelengkapan administrasi pengajaran yang dimiliki guna keperluan akreditasi. Pak Nugraha merasa takjub melihat hal tersebut. Ia pun tak dapat menahan rasa penasarannya dan bertanya kepada ibu Siti, "Mengapa ibu melakukan hal ini padahal 40 hari lagi ibu akan pensiun? Sedangkan banyak kawan lain merasa ogah-ogahan ketika mendekati masa pensiun".Ibu Siti pun menjawab bahwa semua ini ia lakukan untuk mengakhiri masa bhaktinya dengan kenangan dan kesan indah. Ia tak mau jika pada hari H nanti, ia akan mendapat teguran dari tim asessor karena kurang atau tidak memiliki perangkat administrasi yang dibutuhkan. Ibu Siti tidak mau sekian lama ia mengabdi akan tercoreng gegara tidak maksimal dalam berkarya. Ibarat kata, nila setitik rusak susu sebelanga.

Kisah Ibu Siti ini sangat menginapirasi saya. Betapapun keadaan kita, jiwa mendidik sebagai guru profesional setidaknya tidak akan pernah luntur dilekang oleh usia. Kenyamanan naik sebuah pesawat terbang akan terasa sempurna manakala dapat mengudara mulus, melayang tenang dan mendarat dengan halus. Marilah kita jadikan masa akhir kita menjadi sebuah happy ending, akhir yang bahagia dan membahagiakan.

17 Okt 2018

Pantang Berpangku Tangan, Ini yang Dilakukan Pencari Nafkah

estupitarto.com- Mencari nafkah adalah tugas seorang Ayah, meskipun saat ini para istri juga ikut membantu. Bagi seorang ayah, tanggungjawab ini merupakan salah satu tolok ukur martabatnya sebagai seorang ayah dan suami. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencari nafkah. Beberapa hal berikut ini yang menjadi catatan saya hari ini tentang mencari nafkah.

1. Niat
Mencari nafkah bagi seorang Ayah adalah jihad fi sabilillah. Oleh karena itu luruskan niat bahwa kita bekerja semata-mata karena Allah untuk menunaikan amanah-Nya. Gugur saat menjalankan tugas saat mencari nafkah bernilai syahid. Insya Allah.

2. Kesungguhan Hati
Kesungguhan hati tercermin dari cara ia mencari nafkah. Pantang bermalas-malasan dan selalu semangat dilandasi oleh motivasi dan niat bahwa ia memiliki sebuah tanggungjawab.

3. Kuat
Pada saat bekerja, halangan dan rintangan pasti akan didapatkan. Kuat, kunci menghadapi itu semua. Kuat secara fisik dan mental. Kekuatan fisik tentu dapat kita kelola dengan menciptakan keseimbangan antara waktu ia bekerja dengan beristirahat. Terlalu banyak waktu digunakan untuk bekerja atau bahkan terlalu lama beristirahat bukanlah hal yang baik. Kata Bang Rhoma,"T E R L A L U ". Banyak kita lihat seseorang bekerja dengan memperlakukan malam buat siang dan siang tetaplah siang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih. Pada akhirnya ketika raga jatuh sakit, semua uang yang dikumpulkannya bisa jadi ludes habis untuk pengobatan.

Mental pun harus kuat, manakala terjadi benturan dengan rekan kerja, pelanggan atau pun dengan atasan. Satu hal yang perlu disadari bahwa benturan itu terjadi karena tidak ada kesamaan antara harapan orang lain dengan apa yang kita lakukan. Maka, selalu intropeksi diri, memohon maaf jika melaukan kesalahan dan baik menyampaikan jika kita berada pada posisi yang benar.

4. Sadar
Sadarilah bahwa Allah telah memberikan dan membagi rezeki bagi tiap makhluk-Nya. Tidak ada rezeki yang tertukar sebab semua telah digariskan. Tugas kita hanyalah menjemput rezki yang digantungkan. Dengan demikian kita akan senantiasa berusaha dan berihtiar guna mencapainya.

5. Syukuri
Syukuri rezeki hari ini. Banyak atau sedikit rezeki yang kita terima harus disyukuri. Yakinlah bahwa syukur akan mendekatkan diri pada tambahan rezeki yang akan datang. Guru saya mengatakan bahwa rezeki hari ini pada dasarnya ada dua yakni, apa yang kita makan, apa yang kita kenakan saat ini.

Semoga bermanfaat dan selalu menjadi pengingat bagi kita semua.