24 Mei 2018

3 Alasan Shaf Berkurang Pada Sepertiga Terakhir, No 3 Bikin Ngelus Dada

estupitarto.com- Masyarakat pada umumnya membagi tiga keutamaan di bulan Ramadhan. Awalnya terdapat rahmat, tengahnya ampunan dan sepertiga terakhir terbebas dari siksa api neraka. Dilansir dari muslim.co.id, persepsi ini diambilkan dari hadits yang dhaif sehingga perlu diluruskan berdasarkan hadits lain yang shahih. Pada tulisan kali ini saya tidak akan mengulas secara detil mengenai hal tersebut sebab kefakiran ilmu yang saya miliki. Saya hanya akan menceritakan perbincangan di suatu warkop bersama teman-teman ojek online.

Saat itu teman saya mengeluhkan orderan sepi pada awal ramadhan ini. Selanjutnya ia yakin bahwa pada sepertiga Ramadhan terakhir akan banyak orderan yang masuk. Lalu apa hubungannya dengan shaf berkurang dalam judul di atas?

Kita semua tahu bahwa pada awal Ramadhan ini, masjid maupun mushola banyak jamaah yang hadir dalam melaksanakan shalat Tarawih. Bahkan barisan shalat dapat memenuhi hingga teras masjid. Semua semangat menyambut datangnya bulan yang penuh berkah dan ampunan ini. Fenomena selanjutnya yang biasa terjadi di beberapa tempat, jumlah tersebut semakin ke depan. Inilah tiga alasan berkurangnya shaf versi perbincangan kami di warung kopi.

1. Hujan

Hujan pada bulan Ramadhan sungguh merupakan berkah tersendiri. Udara yang sejuk akan mengurangi rasa dahaga saat menjalankannya. Hujan yang turun tak hanya terjadi pada siang hari melainkan bisa juga pada saat malam hari. Tak jarang pada saat hendak berangkat Tarawih berjamaah di masjid atau mushola, hujan turun. Ada yang tetap semangat berangkat namun ada pula yang enggan menuju ke tempat ibadah ini. Bisa jadi bukan karena enggan ya guys melainkan tidak ada payung atau jas hujan yang dapat digunakan untuk melindungi dari air hujan ketika hendak berangkat ke masjid atau mushola.

2. THR Sudah Cair

Persamaan antara hujan dengan THR adalah sama-sama bahagia bila cair. THR biasanya diturunkan pada masa akhir Ramadhan atau sepertiga waktu terakhir. Pada masa itu, beberapa instansi mulai meliburkan karyawannya. Kesempatan itu digunakan oleh keluarga untuk pergi keluar untuk mencari pakaian baru atau hidangan yang akan disuguhkan pada saat lebaran nanti.

Mengenai hal ini, tidak semua keluarga pergi pada saat malam hari. Mereka yang mengetahui manfaat dan pahala yang besar dalam menjalankan ibadah di bulan suci ini lebih memilih waktu siang hari untuk berbelanja, tokh ia sudah libur bukan? Ada pula yang memilih berbelanja di waktu malam hari setelah Tarawih. Tentu saja mereka yang memilih waktu ini telah memperhitungkan waktu dengan tepat sehingga waktu berbelanja dapat terpenuhi. Ada pula yang memilih melewatkan waktu Tarawih untuk pergi berbelanja. Alasannya agar mereka memiliki waktu yang cukup untuk berbelanja sekaligus jalan-jalan. Nah, pada bagian THR cair inilah yang membuat bahagia teman saya sebab dipastikan akan banyak order mengantarkan orang-orang berbelanja.

Akibat aktifitas berbelanja di malam hari tersebut, maka bisa dipastikan jamaah masjid menjadi berkurang barisannya.

3. Malas dan Capek

Perjuangan seseorang dinilai dari semangat istiqomahnya. Mereka yang mampu bertahan dalam keistiqomahan beribadah akan menuai hasil yang maksimal dibandingkan dengan menyerah di tengah jalan. Rasa manusiawi terhadap fisik menjadi alasan bagi mereka yang enggan lagi pergi ke masjid berjamaah. Ya, malas dan capek, tentu saja alasan ini bikin kita ngelus dada dan beristighfar ya guys.

Sebelum saya akhiri, ada sebuah kisah perbincangan Tasban dan Koncer yang menarik.

Kala itu Tasban bertanya kepada Koncer. 

"Mengapa kamu tidak shalat Tarawih berjamaah di masjid, Kon?" 
"Tidak, Tas.Masjidnya sudah banyak yang berjamaah" Jawab Tasban
"Berarti kamu tidak akan pernah shalat Tarawih berjamaah, nih?" Tanya Tasban selanjutnya.
"Aku tetap akan shalat berjamaah di masjid, Tas. Menunggu nanti pada sepertiga terakhir Ramadhan. Ketika orang-orang sudah tidak mau meramaikan masjid lagi, giliran aku yang akan meramaikannya. Dengan begitu masjid akan senantiasa ramai baik pada awal hingga akhir Ramadhan dan seterusnya" Jawab Koncer.

Semoga Ramadhan kita memperoleh keberkahan pada setiap aktifitas yang kita lakukan.

Sumber gambar dari NU Online

23 Mei 2018

Berkarir Di Jalan Allah

estupitarto.com-Karir bagi seseorang terasa amat penting. Setiap individu akan berlomba meniti jalan karir hidupnya sesuai dengan jalan yang mereka pilih. Seorang guru meniti karir berawal dari mengikuti tes pegawai negeri atau institusi swasta. Seorang calon karyawan memulai karirnya saat ia memasukan lamarannya di sebuah perusahaan hingga resmi dinyatakan sebagai karyawan pada perusahaan tersebut. Seorang pengusaha merintis karirnya dari modal awal hingga berjibaku dengan waktu. Jenjang karir seseorang pun tergantung dari kemampuan institusi tempatnya bekerja dalam menghargai sebuah prestasi, maka beruntunglah bagi mereka yang berada di tempat yang tepat untuk mengembangkan karirnya.

Semua karir yang tersebut di atas hanyalah bersifat sementara. Meniti karir di dunia tidak akan pernah sebanding dengan meniti karir di jalan Allah. Ibarat menanam rumput padi tak akan tumbuh dan menanam padi niscaya rumput pun ikut jua. Kesadaran individu bahwa ada sebuah karir yang patut diperjuangkan dengan segala kemampuannya tidak akan membuat kesedihan baginya bilamana teman atau saudara tampak berjaya dengan karir yang mereka dapatkan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita sukses meniti karir di jalan Allah.

Niat
Tumbuhkan kesadaran bahwa apapun yang kita lakukan di dunia ini berangkat dari niat suci atas nama Allah, "Bismillah". Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bahwa amal seseorang tergantung pada niatnya. Apa yang akan ia dapatkan sesuai dengan niat awalnya pula. Seseorang berniat ikut lomba agar ia mendapatkan pujian manakala memenangkannya maka pujian itulah yang akan ia dapatkan. Niat karena Allah, maka pada hakikatnya ia telah melakukan jual beli dengan Tuhannya.

Ikhtiar
Istiqomah dalam berusaha akan berbuah indah pada akhirnya. Berusaha sesuai dengan tugas dan kewajiban yang harus kita lakukan. Tengoklah, seorang guru setiap hari ia mengajar untuk mendidik murid-muridnya itulah ikhtiar. Seorang satpam berjaga di posnya untuk memastikan keadaan aman pada lingkungan tangungjawabnya itu juga ikhtiar. Maka ikhtiar apakah yang sudah kita lakukan untuk memberikan persembahan kepada Tuhan kita? Tak lain adalah dengan betaqwa kepada-Nya.

Belajar
Berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin adalah salah satu indikator orang yang bakal memperoleh keberuntungan. Upaya agar diri lebih baik tak lain dengan belajar. Belajar dari kesalahan masa lalu, belajar dari pengalaman hidup orang lain, belajar dari para guru yang mengajarkan nilai-nilai kebajikan. Belajarlah dari orang-orang yang diberikan petunjuk agar kita memperoleh jalan yang benar. Track yang tepat untuk mencapai tujuan dalam meniti karir kita di jalan Allah. Jihad Fii Sabilillah dengan peran yang kita jalani di dunia ini.

Ketiga hal tersebut jika mampu kita jalani maka pasti akan menuai hasil indah pada akhirnya. Karir di jalan Allah, jelas arah dan tujuannya, pasti penghargaan yang akan didapatkannya. Masih mau meniti karir di jalan selain Allah?

21 Mei 2018

Cambuk Menjelang Ramadan

estupitarto.com - Menjelang ramadan, Bangsa Indonesia dikejutkan dengan peristiwa bom yang meledak di kota Surabaya. Dampak dari peristiwa tersebut tentu saja membuat satu catatan persepsi masyarakat mengenai Islam. Peristiwa tersebut tentu saja tidak dibenarkan oleh masyarakat dimanapun berada karena melukai seseorang bukanlah hal yang baik. Cambuk menjelang ramadan ini setidaknya tidak membawa kita pada perasaan untuk terus mengutuk, mencaci maupun meratap. Cambuk inilah yang seharusnya menjadi bahan evaluasi kepada kita untuk menjadi pribadi muslim yang lebih baik.

Pada bulan ramadan ini, marilah kita jadikan sebagai momentum untuk belajar menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Berikut ini beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam rangka pembenahan diri:
  • Membaca
Membaca merupakan pintu gerbang pengetahuan. Pada bulan ramadan banyak yang melakukan aktivitas membaca kitab suci Alquran. Pada ramadan kali ini, tidak ada salahnya bagi kita untuk mencoba membaca terjemahan Alquran dan hadits-hadits. engan demikian pemahaman kita mengenai Islam akan semakin kaya dengan memahami makna dan arti yang termaktub di dalam kitab pedoman kita.
  • Diskusi
Membaca saja tidak cukup. Jika kita hanya puas dengan membaca maka kita bisa jadi akan terjebak pada penafsiran dangkal menurut kaca mata kita. Diskusi dengan Ustadz, Guru maupun sahabat dapat menjadi pelengkap pemahaman kita mengenai suatu masalah yang kita temukan.
  • Beramal
Ilmu tidak akan berarti apapun jika tiada diamalkan. Amalkanlah suatu ilmu yang kita dapatkan dari aktifitas membaca serta diskusi, walaupun hanya satu ayat.

Semoga dengan tiga hal tersebut, kita akan menjadi pribadi yang semakin baik yang mampu membedakan mana yang haq dan yang bathil. Marilah kita menyemai benih kemuliaan di bulan suci ini.

Photo by Pok Rie from Pexels

18 Mei 2018

Menyemai Benih Kemuliaan

Puasa, diawali sejak tanda imsak terdengar hingga adzan maghrib berkumandang. Rentang waktu diantaranya mewajibkan bagi muslim untuk menahan kegiatan makan dan minum serta hawa nafsu lainnya.

Puasa di bulan ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ada nilai-nilai kemuliaan dibalik rangkaian ibadah di bulan suci ini. Inilah waktu yang Allah sediakan kepada hamba-Nya untuk berburu pahala yang lebih besar dibandingkan pada hari biasanya.

Rangkaian kegiatan bernilai ibadah. Sahur, tadarus Qur'an, tarawih, sedekah bahkan tidur pun memiliki nilai ibadah. Kegiatan itu seperti halnya kita menyemai benih-benih kemuliaan yang akan kita panen pada hari kemenangan.

Marhaban Yaa Ramadhan

14 Mei 2018

Inilah Alasan Mengapa Sepatu Banyak Macamnya

Saat saya bersama dengan anak-anak di kelas membahas mengenai keanekaragaman individu pada masyarakat, ada satu pertanyaan dari Hanifah. Ia bertanya,"Mengapa harus ada perbedaan individu?"

Saya coba memutar otak mencari kata-kata yang dapat dipahami oleh anak-anak seusia mereka. Tak berapa lama, saya melirik sepatu hitam milik saya yang parkir manis di dekat pintu masuk kelas.
"Ayo, Pak Guru ajak kalian membayangkan sesuatu!" ajakku pada murid-murid.

"Bayangkan jika di dunia ini hanya ada satu pabrik sepatu. Sepatu yang diproduksi pun hanya satu jenis dengan warna yakni hitam, model dan ukuran yang sama", kata saya. Murid-murid terdiam sejenak. Saya menduga diamnya mereka karena membayangkan sesuatu. Mulailah saya masuk dalam pikiran mereka kembali.

"Nah, sekarang sepatu itu telah dibeli oleh orang-orang. Tak heran jika di masjid banyak sepatu hitam berjajar di pintu masuknya. Termasuk sepatu milik Pak Guru" Kata saya dibalas dengan anggukan murid-murid.

"Nah, masalahnya mulai muncul ketika Pak Guru mau pulang. Pak Guru bingung mana sepatu milik Pak Guru. Apakah ada yang tahu bagaimana cara menemukannya?"

"Gampang, Pak Guru. Harusnya sepatu Pak Guru diberi tanda biar tahu mana sepatunya" Celetuk Icha.

"Nah, itulah. Jika diberi tanda berarti sepatu Pak Guru sudah beda dengan sepatu lainnya, bukan? Itulah mengapa harus ada perbedaan. Supaya kita bisa mengenal dan saling mengenal" terang saya.

"Jadi, mengapa harus ada perbedaan?" tanyaku lagi kepada murid-murid.

"Supaya bisa mengenal dan saling mengenal" jawab mereka serempak.

Itulah alasannya, Nak. Dan itu pulalah yang difirmankan oleh Allah dalam Alquran bahwa sesungguhnya Allah ciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu bisa saling mengenal.

3 Mei 2018

Seutuhnya Aku

Seutuhnya menjadi diri kita adalah tirakat untuk mengenal Tuhanmu.

Setiap helaan nafas dari ruh suci penanda kehadiran-Nya dalam jiwa dan raga.