25 Nov 2015

Guru, Pewaris Tugas Para Nabi

estupitarto.com-kita mungkin memiliki alasan bahwa menjadi guru adalah pilihan hidup atau bahkan ada juga yang beralasan bahwa inilah panggilan hidup saya. Apapun alasan Anda, saya katakan bahwa menjadi guru adalah mewarisi tugas para Nabi. Para Nabi diutus oleh Allah sebagai penyampai firman-Nya. Kehendak Allah inilah diejawantahkan oleh para Nabi dengan risalah dan uswahnya guna menyelamatkan serta membimbing manusia agar memperoleh keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

Saya mengucapkan Selamat Hari Guru Nasional 2015 kepada seluruh jiwa-jiwa pendidik yang berada di bumi pertiwi. Pada peringatan Hari Guru Nasional tahun ini ada sebuah kalimat yang menjadi trending topik dalam perbincangan para guru baik melalui dunia maya atau pun nyata, Guru Mulia karena Karya. Presiden Joko Widodo dalam acara peringatan puncak Hari Guru Nasional 2015 lalu di Senayan mengatakan bahwa kita adalah karya mulia guru kita! tanpa guru kita tidak akan menjadi siapapun kita sekarang.

Rekan sekalian, beberapa diantara kita mungkin memiliki alasan bahwa menjadi guru adalah pilihan hidup atau bahkan ada juga yang beralasan bahwa inilah panggilan hidup saya. Apapun alasan Anda, saya katakan bahwa menjadi guru adalah mewarisi tugas para Nabi. Para Nabi diutus oleh Allah sebagai penyampai firman-Nya. Kehendak Allah inilah diejawantahkan oleh para Nabi dengan risalah dan uswahnya guna menyelamatkan serta membimbing manusia agar memperoleh keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Adapun tugas guru tentu tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para Nabi. Guru mengajak kepada murid-muridnya untuk membimbing mereka menjadi manusia sehingga kelak dapat hidup selaras dengan kehendak Allah yakni bertaqwa kepada-Nya dan beramal shalih terhadap sesama.

Sobat guru sekalian,
Tugas kita bukanlah sebuah tugas yang remeh. Tugas kita merupakan tugas suci yang dikehendaki oleh Allah. Oleh karena itu di peringatan Hari Guru Nasional 2015 ini marilah kita bersama-sama merenungkan apa yang telah kita lakukan! Marilah kita menimbang apa yang telah kita berikan kepada murid-murid! Apakah kita benar-benar telah memberikan bimbingan agar mereka bertaqwa dan berakhlak mulia kepada Allah dan sesame? Apakah kita telah menjadi teladan yang khasanah bagi murid-murid kita? Apakah hati kita masih ikhlas pada saat mendampingi mereka mengisi kehidupan sehari-hari di sekolah?

Sedikit nasihat dari KH Maimoen Zubair, beliau mengatakan bahwa menjadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Tak perlu kecewa dan bersedih jika murid yang kita ajar dulu kini berkembang tidak sesuai dengan harapan kita. Tugas kita adalah sebagai penyeru sedangkan Allah lah yang akan memberikan hidayah kepada hamba-Nya. Itu pula yang pernah dirasakan oleh Nabi Muhammad. Beliau tak pernah patah arang dalam berdakwah manakala risalahnya ditolak oleh kaum kafir pada saat itu.

Sobat, semoga kita semua dapat mendapatkan kebahagiaan mengajar walaupun … sehingga kita dapat menuai hasil berupa ilmu yang bermanfaat kelak di kehidupan nan kekal bersama Allah di surga.

Tetap Semangat dan Terus Berkarya.

12 Nov 2015

Nggak Mau Sekolah, Belajar di Rumah juga Bisa

estupitarto.com-Hari ini anak saya tidak mau masuk sekolah karena sudah terlambat. Kebetulan tidak ada seseorang yang dapat mengantarnya ke sekolah. Sesampai di rumah saya bertanya kepadanya alasan ia tidak mau berangkat sekolah, malu karena terlambat dating katanya. Sebagai seorang Ayah tentunya saya harus memberikan gambaran betapa pentingnya pergi ke sekolah. Saya katakan kepadanya, "Nak, jika kamu tidak mau berangkat sekolah, nanti kamu bias ketinggalan pelajaran lho".
Langsung ia menjawab,"Nggak mungkin Ahsan ketinggalan pelajaran. Ahsan punya buku yang Ustadzah ajarkan di kelas. Aku bisa kok belajar dengan membaca  buku ini!" serunya sambil mengambil buku pegangan yang dimaksud.

GUBRAK! Betapa terkejutnya saya mendengar alibinya. Apa yang ia katakan ada benarnya juga. Kadang kita sebagai orangtua sering memberikan motivasi kepada anak kita agar selalu rajin berangkat sekolah supaya tidak ketinggalan pelajaran. Sobat sekalian, jika saat ini pemikiran tersebut masih ada dalam benak kita saya menyarankan agar kita segera move on deh. Zaman selalu berubah, zaman kita bukanlah zaman anak-anak kita. Saat ini dengan banyaknya informasi yang tersedia baik dari buku, media bahkan internet selayaknyalah menjadi bahan bahwa ilmu pengetahuan tidak lagi berpusat di sekolah atau pun dari seorang guru saja. Lalu buat apa sekolah jika ilmu pengetahuan tersebut bisa didapatkan di rumah?

Orangtua memegang peranan penting dalam memotivasi anak untuk sekolah. Oleh karena itu orangtua perlu memahami makna bersekolah dilihat dari berbagai sudut pandang. Sekolah merupakan salah satu tempat dimana anak-anak kita akan berinteraksi dengan anak-anak lain serta guru yang tak lain adalah orang yang berada diluar keluarga. Sekolah dapat saya katakan merupakan sebuah laboratorium hidup bermasyarakat. Di sanalah anak-anak kita belajar bagaimana harus hidup bersama dengan orang lain agar terbentuk karakter berakhlak mulia. Ilmu saja belum cukup karena ada amalan yang dituntut setelahnya. Disinilah peran guru dan sekolah dalam rangka membekali jiwa dan mental mereka agar siap dalam mengamalkan ilmu yang didapatkannya. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita sebagai orangtua untuk terus bersemangat dan makin kreatif saat memberikan motivasi kepada anak-anak kita tercinta.

6 Nov 2015

Mimpi Muluk Hanya Untuk Orang yang Pesimis

estupitarto.com- Banyak diantara kita yang merasakan gamang akan sebuah impian, bahkan kadang sering muncul kata-kata negatif seperti terlalu muluk, mustahil, nggak realistis dan lain sebagainya. Afirmasi negatif tersebut merupakan kata-kata yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang pesimis. Ia selalu memandang setiap mimpi tersebut sebagi hal yang tak bisa terwujud padahal berusaha pun belum.

Sebut saja namanya Gigih seorang yang diberikan amanah sebagai penerima tanah wakaf  seorang warga di tempat tinggalnya. Tanah wakaf tersebut digunakan untuk pembangunan mushola. Sebagai orang yang diberikan amanah maka ia pun bertekad untuk melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Pekerjaannya sebagai seorang arsitek ia amalkan dengan cara membuat desain bangunan mushola. Beberapa hari ia luangkan waktu di sela-sela pekerjaan utamanya untuk membuat desain di depan laptopnya. Akhirnya rancangan desain itu pun jadi plus perhitungan kisaran biaya pembangunannya.  Desain bangunan mushola yang dibuatnya dirancang dengan bentuk bangunan dua lantai. Rancangan ini dibuat dengan sebuah harapan dan mimpi bahwa kelak mushola ini dapat menampung jumlah jamaah di sekitarnya serta pusat kegiatan pendidikan agama bagi putra-putri warga sekitar.

Tiba saatnya mengumpulkan warga untuk memusyawarahkan perihal mushola tersebut. Semua warga berkumpul di balai dusun. Pada pertemuan tersebut, Gigih mempresentasikan rancangan bangunan yang ia susun dengan segala fungsi dan alasan bentuk tiap bagian mushola. Tanggapan tiap warga berbeda-beda, ada yang hanya diam saja dan ada pula tangapan nyinyir keluar dari beberapa warga, "Ah, kita mana mungkin bias membuat mushola yang tampak begitu megah tersebut. Sudahlah, nggak usah muluk-muluk".

Sobat, cerita di atas mungkin bisa saja terjadi di berbagai situasi saat kita menyampaikan ide dan mimpi kita. Banyak diantara kita yang merasakan gamang akan sebuah impian, bahkan kadang sering muncul kata-kata negatif seperti terlalu muluk, mustahil, nggak realistis dan lain sebagainya. Afirmasi negatif tersebut merupakan kata-kata yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang pesimis. Ia selalu memandang setiap mimpi tersebut sebagi hal yang tak bisa terwujud padahal berusaha pun belum. Ketika afirmasi negative ini selalu mengiringi setiap langkah usaha ini maka tak pelak di akhirnya hasil kadang tak akan sesuai dengan impian. Banyak diantara kita seringkali membatasi kemampuan kita dengan afirmasi-afirmasi negative.

Belajar dari peristiwa perang Badar pada zaman Rasulullah Muhammad SAW, ketika itu kaum muslimin harus berhadapan dengan pasukan kafir Quraisy yang memiliki jumlah lebih banyak dibandigkan dengan pasukan muslim. Para sahabat bertanya kepada Muhammad, apakah mereka mampu menghadapi perang ini sedangkan jumlah kalah banyak. Begitu hebatnya seorang Muhammad yang mampu memberikan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang tak dapat terjadi jika Allah menjadi penolong. Dengan keyakinan bahwa ada kekuatan yang lebih hebat memihak pada pasukan ini, perang Badar pun dimenangkan oleh pasukan muslim.

Setiap orang memiliki hak mewujudkan impian, cita-cita dan hajatnya. Berpikir optimis disertai dengan kekuatan doa kepada Tuhan dan kesungguhan usaha menjadi bahan bakar bagi kita untuk melangkah menggapai mimpi. Berdoa semoga rencana atau pun mimpi ini sesuai dengan rencana Tuhan dan senantiasa kita harapkan petunjuk dari-Nya dalam setiap usaha yang kita lakukan. Dengan demikian akan ada keikhlasan hati ketika bertindak dan menerima apapun setiap hasil pada akhirnya nanti. Semoga bermanfaat.